David Hume – Tokoh Filsuf Modern
Hume merupakan filsuf besar pertama dari era modern yang membuat filosofi naturalistis. Filosofi ini sebagian mengandung penolakan atas prevalensi dalam konsepsi dari pikiran manusia merupakan miniatur dari kesadaran suci; sebuah pernyataan Edward Craig yang dimasukan dalam doktrin 'Image of God'. Doktrin ini diasosiasikan dengan kepercayaan dalam kekuatan akal manusia dan penglihatan dalam realitas, dimana kekuatan yg berisi seritikasi Tuhan. Skeptisme Hume datang dari penolakannya atas ideal di dalam'.
Hume sangat dipengaruhi oleh empirisis John Locke dan George Berkeley, dan juga bermacam penulis berbahasa Perancis seperti Pierre Bayle, dan bermacam figur dalam landasan intelektual berbahasa Inggris seperti Isaac Newton, Samuel Clarke, Francis Hutcheson, Adam Smith, dan Joseph Butler.
Contoh pemikiran Hume bercorak skeptis, di mana ide rasio tak melebihi pengalaman. Ia sangat menekankan aspek pengalaman dari pada rasionalitas dalam menjelaskan semua sesuatu. Ia juga berusaha mengkritisi keyakinan-keyakinan (tradisi) yang telah ada sebelumnya. Meski demikian, Hume juga menyadari keterbatasan akal budi buat mengungkap satu. Hume juga berpendapat bahwa moral cuma berdasarkan pada perasaan. Moral lebih ditekankan pada aspek subjektivitas. Selain itu, Hume juga menjelaskan bahwa tak ada kausalitas. Segala sesuatu terjadi dengan sendirinya yg memang tampak bersama-sama. Pemikirannya sangat menghentak pengetahuan merupakan penolakannya terhadap teori kausalitas. Penolakannya terhadap teori kausalitas ini justru menjadikan Hume sebagai seorang filsuf skeptis yang radikal.
Biografi
David Hume lahir di Edinburgh, Skotlandia, 7 Mei 1711. Ayahnya adalah seorang pengacara dan tuan tanah, sedangkan ibunya seorang Kalvinis keras. Ia mempelajari hukum, sastra, dan filsafat di Universitas Edinburgh. Pribadinya lebih tertarik dengan dunia filsafat dibandingkan ilmu yg yang lain. Ia adalah seorang filsuf Realitas. Ia bekerja sebagai diplomat di Prancis, Italia, Austria, dan Inggris. Hume meninggal di Edinburgh pada tahun 1776.
Pada tahun 1500-1700, Eropa dilanda dengan peperangan agama. Situasi ini membuatnya tidak terlalu menghargai agama-agama. Bagi Hume agama dibedakan menjadi beberapa merupakan : Natural Religion (akal budi) dan Agama Rakyat (fanatisme).
Zaman Hume dikenal sebagai “Zaman Akal Budi”. Budi merupakan ide utama yg mungkin menjadi alasan bagi Hume untuk menunjukkan batas-batas akal budi. Ia senang menghancurkan ide-ide besar ketika itu, sehingga pemikirannya lebih mengkritisi keyakinan-keyakinan yang ada. Pada zaman Hume, banyak filsuf Prancis terancam hidupnya karena dinilai terlalu radikal memperjuangkan gagasan mereka. David Hume menjadi salah seorang yg membantu para filsuf tersebut.
Landasan pemikiran Hume juga dipengaruhi oleh pemikiran Locke dan Barkeley. Pandangan metafisika tradisional pada waktu itu sangat kabur, tidak pasti, dan melebih-lebihkan kemampuan akal manusia. Selain itu, metafisika juga tercampur dengan dogma-dogma Katolik.Hal ini membuat Hume prihatin dan ingin membersihkan filsafat dari simbol-simbol religiusdan metafisis.
Beberapa Pemikiran David Hume (Skeptisisme, Empirisme, dan Naturalisme)
Skeptisisme Hume berpendapat bahwa, filsafat tak mampu berkiprah melampaui pengalaman, hipotesis yang berpretensi membuka kualitas asli terdalam dari dan membatasi pengertian manusia. Dari situ, ia mulai meneliti ilmu-ilmu yang dapat diobservasi. Pokok bahasannya adalah kodrat manusia. Penyelidikan atas kodrat manusia ini menghasilkan suatu permenungan komprehensif dan konstruktif tentang pengalaman dan kodrat manusia.Penekanannya pada kodrat manusia inilah yang mengantar Hume pada naturalisme.
Skeptisisme Hume diarahkan pada tiga pemikiran:
- Hume melawan ajaran rasionalistis mengenai idea-idea bawaan serta anggapannya bahwa jagadterdiri dari sebuah keseluruhan yang saling bertautan (Sependapat dengan Locke &Barkeley).
- Hume menyerang pemikiran-pemikiran religius yang yakin bahwa Allah membiarkan alamsemesta berjalan mekanis tanpa campur tanganNya. Agama masih yakin adanyatertinggi. Hume melawan ide kausalitas.
- Hume menyerang Empirisme sendiri yang masih mempercayai adanya. Menurutnya, substansi itu kumpulan dari gagasan-gagasan.
Mengenai Empirisme, Hume berkutat pada soal pengalaman menangkap kenyataan.Filsafat-filsafat alam harus menjelaskan bagaimana sensasi bekerja. Sensasi adalah entitas-entitas yang dengan segera hadir pada akal budi. Dalam empirismenya, Hume berpendapat bahwa:
- Semua pengetahuan sejati harus berdasar pada pengalaman
- Adanya dualisme antara pengetahuan dan pengalaman
- Adanya dua argumen yg berbeda, yakni antara alasan yg berdasar pada fakta dan kodrat(alam).
Kausalitas
Mengenai kausalitas, Hume berpendapat bahwa tiada keharusan fisik yg mutlak dantiada koneksi mutlak antara kejadian a dan kejadian b, maka tiada hukum sebab akibat. Yang ada hanyalah hubungan erat antara ruang dan waktu.
Hume menyatakan bahwa konsepkausalitas hanyalah “animal faith” (kepercayaan naif) kami belaka yang tidak milik dasar. Apa yang kita anggap sebagai hubungan kausalitas hanyalah merupakan kesan yang muncul dari keteraturan beberapa peristiwa tertentu yg terjadi secara berurutan umumnya menunjukkan hasil yg sama. Ini adalah pengalaman dan bukan penalaran. Pengalaman memperlihatkan adanya urutan gejala-gejala yg membentuk keteraturan. Keteraturan inilah yg merangs4ng kalian bahwa satu itu mutlak berhubungan. Ide mengenai koneksi mutlak ini muncul dari perasaan-perasaan. Di sinilah penting peranan perasaan yang melebihi peranan akal budi.
Moral
Bagi Hume, moralitas adalah tatanan hidup baik dan buruk yg sangat dipengaruhi olehunsur perasaan. Maka, moralitas mampu jadi masalah perasaan atau hasrat bukan akal budi.
Morality, according to Hume, is not susceptible of demonstration, as it depends on men's perceptions and appetites, that are subjective. What distinguishes a virtue from a vice is theimpression that it generates. If the impression is agreeable, then it will be virtue; if it is uneasy,then it will be a vice. It follows that, in Hume's moral philosophy, there is no room for eternal and immutable standards in morality.
Pengetahuan moral itu berasal dari asosiasi ide-ide khusus tanpa pendasaran rasional, tetapi berdasarkan pada pilihan-pilihan subyektif yg disenangi. Akal budi hanya memberi keterangan saja. Misalnya, di suatu tempat ada mangga yg enak, mengenai bagaimana mendapatkannya bukan urusan akal budi tetapi hasrat atau perasaan itu. Prinsip suatu tindakan dinilai baik adalah kalau tindakan itu menyenangkan atau berguna bagi kalian atau banyak orang.
Pandangan Hume mengenai moralitas:
Moralitas cuma berdasarkan pada perasaan. Pengetahuan moral dari “asosiasi ide-ide khusus tanpa pendasaran rasional berdasarkan pada pilihan-pilihan subyektif yang disenangi(preference). Akhirnya bukan akal budi yg mengatur perilaku kita, hasrat-hasrat itulah yang mengatur akal budi. Pencerahan berasal dari pengalaman, apa yang tidak kita alami tak mungkin membentuk pengetahuan.
Agama
Hume tak setuju dengan adanya agama monoteis. Menurutnya, monoteisme itu tak memiliki dasar, khususnya anggapan yg menyakini Tuhan itu sempurna. Buktinya dunia ini jahat dan buruk, maka keyakinan Tuhan itu maha sempurna dapat disangkal. Menurutnya pula, kami tak tahu pasti mengenai apa itu Allah sebab kita tak memiliki pengalaman tentang dunia yang lain selain dunia ini. Sikap skeptis Hume bersifat agnotisisme, yakni sebuah anggapan bahwa kita tak dapat tahu apakah Tuhan itu ada atau tak.
Maka, Hume mengusulkan politeisme yang dianggapnya sebagai bentuk ateisme. Politeisme itu sendiri bersifat toleran dan mendukung keutamaan kodrati yang menolong manusia buat mengembangkan dirinya.
Sumber:
- David Hume
- Pokok Pemikiran David Hume

Gabung dalam percakapan