Biografi Suhrawardi – Filsuf Iluminasi Dan Konsep Tasawuf

Biografi Suhrawardi – Filsuf Iluminasi Dan Konsep Tasawuf

Posted on · 9 min read

Suhrawardi adalah seorang filsuf islam yang berasal dari Iran Selatan Biografi Suhrawardi - Filsuf Iluminasi dan konsep TasawufSuhrawardi adalah seorang filsuf islam yang berasal dari Iran Selatan. Ia merupakan seorang sufi yg terkenal dengan pemikirannya mengenai hikmah isyraqiyah.

Dalam bidang filsafat Islam sering disebut dengan teori iluminasi (pancaran). Suhrawardi berusaha mensintesiskan pendekatan burhani dan irfani dalam pemikiranya yang kemudian melahirkan tasawuf falsafi atau teosofi. Dasar dari teori ini adalah bahwa Allah adalah cahaya dari seluruh cahaya dan sumber dari seluruh yang ada. Dari cahaya Allah itulah muncul cahaya-cahaya yg lain, berupa alam yg maddi, alam ruhi dan akal-akal yang kemudian terbagi-bagi semuanya itu tidak lain, hanyalah kesatuan dari cahaya-cahaya yang menggerakkan alam semesta ini.

Biografi

Suhrawardi yang memiliki nama lengkap Syihab al-Din Yahya bin Habasybi bin Amirak Suhrawardi, lahir di Suhrawardi, sebuah desa dekat kota Zinjan di Iran Selatan pada 549 H/1155 M dan meninggal di Aleppo pada 587 H/1197 M. Ia dijuluki al-Maqtul (yang terbunuh) atau al-syahid, sebab ia meninggal karena dibunuh atas suruhan al-Malik al-Zahir (raja Aleppo dan Siria Utama). Keputusan pembunuhan atas dirinya diambil karena ajaran tasawufnya dipandang sudah menyeleweng dari rel Islam. Julukan lain yg tidak jarang dinisbatkan kepadanya adalah Syaikh al-Isyraq (Guru Illuminasi).

Suhrawardi menjalani masa studinya pada beberapa guru di dua tempat. Majd al-Din al-Jili adalah gurunya yang pertama, yg mengajarinya filsafat dan teologi di Maragha. Selain itu, ia diajar pula Fakhr al-Din al-Mardini (w. 594/1198), yang juga mengajar di Isfahan atau Mardin. Orang inilah yg diduga sebagai gurunya yang terpenting. Al-Mardini berada di wilayah Aleppo, sesaat Suhrawardi dieksekusi peristiwa yang telah ia prediksikan sebelumnya tetapi sejauh ini tidak diketahui apakah ia milik peran, positif atau negatif, dalam intrik yang membawa ke pengadilan dan selanjutnya pembunuhan atas Suhrawardi. Al-Mardini merupakan orang sezaman dengan Abu al-Barakat al-Bahgdadi (w. 560/1164), seorang pengikut aliran anti Aristoteles yg terkenal. Ia juga murid dari Baghdadi yg lain dan menjadi rivalnya di Baghdad. Karena hal ini dan sekian alasan lain, al-Baghdadi termasuk salah seorang dari sedikit filsuf sezaman yg disebut-sebut Suhrawardi.

Baik Suhrawardi maupun al-Baghdadi dalam persoalan filsafat yang mendasar sama-sama memberi peran penting kepada intuisi dalam bangunan filsafat. Menurut Hossein Ziai, struktur karya filosofis al-Baghdadi, Evidential (al-Mu’tabar), juga terefleksi dalam karya-karya filosofis Suhrawardi. Bagi Ziai, ini membuktikan al-Baghdadi semestinya dipandang sebagai sesuatu sumber segera yang utama buat banyak pendekatan non-peripatetik Suhrawardi terhadap masalah filsafat.

Al-Baghdadi, sebagaimana Suhrawardi, mengklaim bahwa magnum opus-nya, al-Mu’tabar, merupakan gubahan tentang dasar refleksi pribadi. Keduanya mengakui bahwa kepastian intuisi milik validitas yg sama dengan kepastian penalaran dan persepsi inderalah yg diterima oleh kaum Peripatetik.

Guru Suhrawardi yang yang lain adalah Zahir al-Farsi (Nasr menyebutnya Zahiruddin al-Qari), dari tokoh ini ia belajar tentang pengamatan (al-Basha’ir). Juga belajar dari seorang ahli logika ternama, ‘Umar ibn Sahla al-Sawi (w. 540/1145), salah seorang dari filsuf yang namanya disebut-sebut oleh Suhrawardi, khususnya dalam kaitan dengan permasalahan-permasalahan tertentu logika yg rumit.

Setelah menyelesaikan studinya, Suhrawardi melakukan perjalanannya ke Iran. Di sana ia menemui sejumlah syekh sufi dan sangat tertarik sebagian dari mereka. Pada kenyataannya, ia memasuki lingkaran kehidupannya melalui jalan sufi dan cukup lama berkhalwat dalam mempelajari dan menekuninya.

Perjalanannya secara bertahap meluas hingga mencapai Anathole dan Suriah yg pemandangan alamnya memukau. Pernah dalam perjalanannya, ia pergi dari Damaskus ke Aleppo buat menemui Malik Zahir, putera Salah al-Din al-Ayyubi yang terkenal. Malik yang milik kecintaan khusus kepada para sufi dan sarjana, menjadi tertarik kepada pemikir muda Suhrawardi, lalu mengundangnya buat tinggal di istana.

Suhrawardi yg telah sangat menyukai daerah ini, dengan senang hati menerima undangan tersebut dan tinggal di istana. Akan tetapi karena caranya yg oensif dan kekurang hati-hatiannya dalam menyebarkan doktrin-doktrin esoterik dihadapan semua jenis audiens; intelegensinya yang tajam yang memungkinkannya bagi mengalahkan lawan-lawannya dalam berdebat dan kepiawaiannya baik dalam filsafat diskursif maupun sufisme, membuatnya banyak dimusuhi orang, terutama di kalangan para ulama hukum (fuqaha). Belakangan, ulama-ulama tersebut menuntut kepada Malik Zahir, agar menjatuhi hukum mati terhadap Suhrawardi karena terbukti menyebarkan doktrin-doktrin yg bertentangan dengan agama.

Malik awalnya menolak. Maka mereka melanjutkan tuntutannya kepada Salah al-Din al-Ayyubi secara langsung. Pada saat itu Suriah sudah terbebas dari tentara Salib, sementara dukungan ulama merupakan satu hal utama buat kekuatan Sultan Salah al-Din. Karena desakan mereka selalu menerus, akibatnya Sultan mengabulkan tuntutan mereka itu. Malik dipaksa bagi melaksanakannya. Lalu kekuasaan eksekutif keagamaan mengakhiri hidup pemikir muda yang cemerlang itu dengan memenjarakannya. Dan saat ia meninggalkan penjara, ia wafat tanpa sebab yang mampu diterangkan sebagai penyebab segera kematiannya pada 587/1191. Demikianlah Syaikh al-Isyraq menerima nasibnya pada usia 38 tahun, sebagaimana yang diterima pendahulunya, al-Hallaj, yg cukup menarik baginya saat masa hidupnya, dan ia sendiri banyak mengutip ucapan-ucapan al-Hallaj dalam buku-bukunya.

Pemikiran Teosofis Suhrawardi

Pengertian Teosofi

Secara etimologis kata teosofi berasal dari kata theosophia, gabungan dari kata theos yang berarti Tuhan dan shophia yang berarti knowledge, doctrine, dan wisdom. Jadi secara literal teosofi berarti pengetahuan atau keahlian dalam masalah-masalah ketuhanan.

Dalam kaitan dengan bidang kajiannya, ada term yang lain yg mirip dengan teosofi, merupakan teologi. Kedua istilah ini mengacu pada pembahasan terhadap persoalan-persoalan ketuhanan, perbedaannya terletak pada operasionalnya. Di dalam mengkaji persoalan ketuhanan, teologi memakai pendekatan spekulatif-intelektual dalam menginterpretasikan hubungan antara manusia, alam semesta, dan Tuhan. Sementara teosofi lebih menukik pada inti permasalahan dengan menyelami misteri-misteri ketuhanan yg paling dalam. Orang yang ahli dalam bidang teologi disebut teolog sementara orang yg ahli teosofi dinamakan teosofos.

Dalam pemahaman Suhrawardi, pengertian teosofos menjadi lebih luas. Menurutnya teosofos adalah orang yang ahli dalam beberapa hikmah sekaligus, yakni hikmah nazariyyah dan hikmah ‘amaliyyah. Adapun yg dimaksud dengan hikmah nazariyyah ialah filsafat sementara hikmah ‘amaliyyah ialah tasawuf.

Dari penjelasan di atas bisa dikatakan bahwa teosofi adalah pemahaman tentang misteri-misteri ketuhanan yang diperoleh melalui pemikiran filosofis-sufistis sekaligus, sedangkan teosofos adalah orang yang mampu mengawinkan latihan intelektual teoritis melalui filsafat dengan penyucian jiwa melalui tasawuf dalam mencapai pemahaman tersebut.

Konsep Teosofi Suhrawardi

Pemikiran teosofi Suhrawardi berujung pada konsep cahaya (iluminasi, ishraqiyyah) yg lahir sebagai perpaduan antara rasio dan intuisi. Istilah Ishraqi sendiri sebagai simbol geografis mengandung makna timur sebagai dunia cahaya. Sementara mashriq yang berarti tempat matahari terbit merefleksikan sumber cahaya.

Sebelum menawarkan konsep iluminasi, Suhrawardi pada mulanya mengikuti pola emanasi yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh peripatetik, terutama al-Farabi dan Ibn Sina, yg membagi arah pemikiran tiap akal yg dihasilkan ke dalam tiga posisi :

1) posisi akal-akal sebagai wajib al-wujud lighairihi,
2) sebagai mumkin al-wujud lidhatihi, dan
3) sebagai mahiyah/zatnya sendiri.

Akal pertama, dengan memikirkan dirinya sendiri sebagai wajib al-wujud lighairihi memunculkan akal kedua, dengan memikirkan dirinya sendiri sebagai mumkin al-wujud lidhatihi memunculkan jirm al-falak al-aqsa, dan dengan memikirkan dirinya sendiri sebagai mahiyah menimbulkan nafs al-falak al-muharrik. Begitu seterusnya sampai akal X sebagai al-‘Aql al-fa’al yg menyebabkan adanya alam.

Sebagai pembanding dari teori emanasi di atas, Suhrawardi memformulasikan teori baru, yakni teori iluminasi, yang sebenarnya yaitu koreksi atas pembatasan akal sepuluh pada teori emanasi. Dalam teorinya ini Suhrawardi sepertinya keberatan dengan adanya posisi akal sebagai wajib al-wujud lighairihi, mumkin al-wujud lidhatihi, dan mahiyah. Menurutnya, bagaimana mungkin dari sesuatu akal memunculkan falak-falak dan kawakib yang tidak terhitung banyaknya? Dengan menetapkan tiga posisi akal seperti yg disebutkan di atas, maka mustahil buat akal tertinggi memiliki persambungan dengan falak-falak dan kawakib yg sangat banyak itu. Oleh karenanya, Suhrawardi menolak pembatasan akal hanya pada jumlah sepuluh.

Selanjutnya Suhrawardi mengganti istilah akal-akal dalam teori emanasi itu dengan istilah cahaya-cahaya. Secara teknis proses iluminasi cahaya-cahaya tersebut mampu diilustrasikan sebagai berikut :

Proses iluminasi Suhrawardi dimulai dari Nur al-Anwar yg merupakan sumber dari seluruh cahaya yg ada. Ia Maha Paripurna, Mandiri, Esa, sehingga tidak ada satupun yang menyerupai-Nya. Ia adalah Allah. Nur al-Anwar ini cuma memancarkan sebuah cahaya yg disebut Nur al-Aqrab.
Selain Nur al-Aqrab tidak ada lainnya yang muncul bersamaan dengan cahaya terdekat. Dari Nur al-Aqrab (cahaya pertama) muncul cahaya kedua, dari cahaya kedua muncul cahaya ketiga, dari cahaya ketiga timbul cahaya keempat, dari cahaya keempat timbul cahaya kelima, dari cahaya kelima timbul cahaya keenam, begitu seterusnya hingga mencapai cahaya yang jumlahnya sangat banyak. Pada setiap tingkat penyinaran setiap cahaya menerima pancaran langsung dari Nur al-Anwar, dan tiap-tiap cahaya dominator meneruskan cahayanya ke masing-masing cahaya yg berada di bawahnya, sehingga setiap cahaya yang berada di bawah selalu menerima pancaran dari Nur al-Anwar secara langsung dan pancaran dari semua cahaya yg berada di atasnya sejumlah pancaran yang dimiliki oleh cahaya tersebut. Dengan demikian, semakin bertambah ke bawah tingkat suatu cahaya maka semakin banyak pula ia menerima pancaran.

Mengacu pada proses penerimaan cahaya yg digambarkan di atas, maka dari proses penyebaran cahaya menurut iluminasi Suhrawardi mampu diperoleh gambaran hasil jumlah pancaran yang dimiliki oleh tiap-tiap cahaya. Cahaya I (Nur al-Aqrab) memperoleh 1 kali pancaran, cahaya II memperoleh 2 kali pancaran, cahaya III mendapat 4 kali pancaran, cahaya IV memperoleh 8 kali pancara, cahaya V mendapat 16 kali pancaran, cahaya VI memperoleh 32 kali pancaran, cahaya, VII mendapat 64 kali pancaran, cahaya VIII memperoleh 128 kali pancaran, cahaya IX mendapat 256 kali pancaran, dan cahaya X mendapat 512 kali pancaran, begitu seterusnya. Dari sini bisa disimpulkan bahwa setiap cahaya yg berada di bawah mulai menerima pancaran sebanyak beberapa kali jumlah pancaran yang dimiliki cahaya yang berada setingkat di atasnya.

Senada dengan teori emanasi, teori iluminasi ini juga membentuk susunan kosmologi yang terpancar dari cahaya-cahaya pada tiap tingkatan. Susunan tersebut, dari cahaya pertama sampai cahaya kesepuluh secara berturut-turut, adalah The great sphere of diurnal motion, the sphere of fixed stars, the sphere of Saturn, the sphere of Jupiter, the sphere of mars, the sphere of the sun, the sphere of venus, the sphere of mercuri, the sphere of moon, the sphere of ether, dan the sphere of zamharir yg dikenal sebagai ruang perbatasan dengan sfera bumi.

Karya-Karya Suhrawardi
Suhrawardi adalah sosok pemuda yg cerdas, kreatif, dan dinamis. Ia termasuk dalam jajaran para filosof sekaligus sufi yang sangat produktif sehingga dalam usianya yang relatif pendek itu ia mampu melahirkan banyak karya kurang lebih 50 karya. Hal ini menunjukkan kedalaman pengetahuannya dalam bidang filsafat dan tasawuf yang ia tekuni.
Sayyed Hussein Nasr mengklasifikasikan karya-karyanya menjadi lima kategori:

  1. Memberi interpretasi dan memodifikasi kembali ajaran peripatetik serta hikmah  isyraqinya, dalam kelompok ini antara lain kitab : At-Talwihat, Al-Muqawamat, Al-Mutharahat, Hikmahal- Ishraq.
  2. Membahas tentang filsafat yang disusun secara singkat dengan bahasa yang gampang dipahami baik yang berbahasa arab ataupun yang berbhasa persi: Al-Lamhat, Hayakil al-Nur, Selebaran fi al-Ishraq.
  3. Karya yang bermuatan sufistik dan memakai lambang-lambang yang sulit dipahami, dalam hal ini memakai bahasa persi walaupun ada sebagian yg berbahasa arab: al-Aql al-Ahmar, al-Gharb al-Gharbiyah, yaumun ma’a jama’at as-sufiyyin dan yang lain-yang lain.
  4. Karya yang yaitu ulasan dan terjemahan dari filsafat klasik: Risalah al-Thair, dan risalah fi haqiqah al-ishq, ini segala karya Ibn sina yang kemudaian di terjemahkan oleh Suhrawardi kedalam bahasa Persia.
  5. Karya yg berupa serangkaian doa-doa, yg dikenal dengan kitab al-Waridat wa al-Taqdisat.
 (Berbagai sumber)