Sejarah Mataram Kuno: Kejayaan dan Keruntuhan Kerajaan
Sejarah Mataram Kuno: Kejayaan dan Keruntuhan Kerajaan
Kerajaan Mataram Kuno merupakan salah satu kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang pernah berjaya di Jawa Tengah antara abad ke-8 hingga ke-11. Keberadaannya menjadi bukti penting perkembangan peradaban di Nusantara pada masa lampau. Kisah Mataram Kuno dipenuhi dengan intrik politik, pembangunan candi megah, dan perang saudara yang akhirnya membawa kerajaan ini menuju keruntuhan. Artikel ini akan mengulas secara mendalam mengenai sejarah Mataram Kuno, mulai dari asal-usul, kejayaan, hingga faktor-faktor yang menyebabkan keruntuhannya.
Asal Usul dan Pendirian Kerajaan Mataram Kuno
Sebelum Mataram Kuno berdiri, wilayah Jawa Tengah telah dihuni oleh berbagai kelompok masyarakat dan kerajaan kecil. Sumber-sumber sejarah mengenai pendirian Mataram Kuno masih bersifat fragmentaris dan banyak diselimuti legenda. Prasasti Canggal yang ditemukan pada tahun 1926 menjadi salah satu sumber utama yang memberikan petunjuk mengenai awal mula kerajaan ini. Prasasti tersebut menyebutkan tentang Rakai Pikatan, seorang tokoh yang dianggap sebagai pendiri dinasti Syailendra, yang kemudian menjadi penguasa Mataram Kuno.
Rakai Pikatan memerintah pada tahun 732 Masehi dan memulai pembangunan candi-candi Hindu-Buddha sebagai wujud pengabdian kepada para dewa. Pembangunan candi-candi ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai simbol kekuasaan dan legitimasi raja. Pada masa pemerintahan Rakai Pikatan, Mataram Kuno mulai memperluas wilayah kekuasaannya dan membangun fondasi bagi kejayaan di masa depan.
Masa Kejayaan Kerajaan Mataram Kuno
Masa kejayaan Mataram Kuno mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Raja Samaratungga (819-838 Masehi) dan Rakai Pramudawardhani (838-856 Masehi). Pada masa ini, pembangunan candi Borobudur, sebuah mahakarya seni dan arsitektur Buddha, diselesaikan. Borobudur menjadi simbol kejayaan Mataram Kuno dan bukti kehebatan peradaban Jawa pada masa itu. Selain Borobudur, candi-candi lain seperti Candi Pawon dan Candi Mendut juga dibangun pada masa ini.
Selain pembangunan candi, Mataram Kuno juga mengalami perkembangan di bidang ekonomi dan sosial. Pertanian menjadi tulang punggung perekonomian kerajaan, dengan sistem irigasi yang maju memungkinkan produksi padi yang melimpah. Perdagangan juga berkembang pesat, dengan Mataram Kuno menjalin hubungan dagang dengan berbagai wilayah di Asia Tenggara dan India. Masyarakat Mataram Kuno hidup dalam harmoni, dengan toleransi beragama yang tinggi antara penganut Hindu dan Buddha.
Pergolakan Politik dan Perang Saudara
Meskipun mencapai masa kejayaan, Mataram Kuno tidak luput dari pergolakan politik dan perang saudara. Setelah masa pemerintahan Rakai Pramudawardhani, terjadi persaingan kekuasaan antara keluarga kerajaan Syailendra dan keluarga Sanjaya. Persaingan ini memicu perang saudara yang berkepanjangan dan melemahkan kerajaan. Kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya juga mulai memanfaatkan situasi ini untuk memperluas wilayah kekuasaannya.
Perang saudara antara keluarga Syailendra dan Sanjaya mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Balitung (899-911 Masehi). Balitung berhasil mengalahkan keluarga Syailendra dan menguasai Mataram Kuno. Namun, kemenangan Balitung tidak membawa stabilitas bagi kerajaan. Pemberontakan terus terjadi di berbagai wilayah, dan kerajaan semakin terpecah belah.
Keruntuhan Kerajaan Mataram Kuno
Pada awal abad ke-11, Mataram Kuno mengalami keruntuhan akibat serangan dari kerajaan Sriwijaya yang berbasis di Sumatera Selatan. Sriwijaya, yang merupakan kerajaan maritim yang kuat, melancarkan serangan ke Jawa Tengah dan berhasil merebut wilayah kekuasaan Mataram Kuno. Selain serangan dari Sriwijaya, bencana alam seperti letusan gunung Merapi juga turut mempercepat keruntuhan kerajaan. Sejarah mencatat bahwa letusan gunung Merapi pada tahun 1006 Masehi menyebabkan kerusakan parah dan memaksa penduduk Mataram Kuno untuk mengungsi.
Setelah keruntuhan Mataram Kuno, wilayah Jawa Tengah terpecah belah menjadi beberapa kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan ini saling bersaing untuk memperebutkan kekuasaan. Salah satu kerajaan yang muncul sebagai penerus Mataram Kuno adalah Kerajaan Jenggala yang didirikan oleh Mpu Sindok. Kerajaan Jenggala kemudian pindah ke Jawa Timur dan menjadi cikal bakal Kerajaan Majapahit.
Warisan Kerajaan Mataram Kuno
Meskipun telah runtuh, Kerajaan Mataram Kuno meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi peradaban Indonesia. Candi Borobudur, sebagai salah satu warisan dunia UNESCO, menjadi bukti kehebatan seni dan arsitektur Jawa pada masa lampau. Selain itu, sistem irigasi yang maju yang dikembangkan oleh Mataram Kuno juga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan pertanian di Indonesia. Budaya Mataram Kuno juga mempengaruhi perkembangan seni dan budaya di Jawa hingga saat ini.
Studi mengenai Mataram Kuno terus dilakukan oleh para sejarawan dan arkeolog untuk mengungkap lebih banyak informasi mengenai kerajaan ini. Penemuan-penemuan baru diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai sejarah dan peradaban Mataram Kuno.
Frequently Asked Questions
1. Apa perbedaan utama antara dinasti Syailendra dan Sanjaya di Mataram Kuno?
Dinasti Syailendra umumnya diasosiasikan dengan agama Buddha Mahayana, terlihat dari pembangunan Candi Borobudur. Sementara dinasti Sanjaya lebih condong ke agama Hindu, dibuktikan dengan pembangunan candi-candi Hindu seperti Candi Loro Jonggrang. Persaingan antara kedua dinasti ini menjadi salah satu penyebab utama perang saudara di Mataram Kuno.
2. Mengapa Candi Borobudur dibangun?
Candi Borobudur dibangun sebagai wujud pengabdian kepada Buddha dan sebagai simbol pemurnian diri serta pencapaian nirwana. Bentuknya yang menyerupai mandala menggambarkan alam semesta dan perjalanan spiritual menuju pencerahan. Pembangunan candi ini juga merupakan manifestasi dari kejayaan dan kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno.
3. Apa penyebab utama keruntuhan Kerajaan Mataram Kuno?
Keruntuhan Mataram Kuno disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor, termasuk perang saudara yang berkepanjangan, serangan dari Kerajaan Sriwijaya, bencana alam seperti letusan gunung Merapi, dan melemahnya sistem pemerintahan. Faktor-faktor ini secara bersamaan menyebabkan kerajaan kehilangan kekuasaan dan akhirnya runtuh.
4. Bagaimana sistem pemerintahan di Kerajaan Mataram Kuno?
Sistem pemerintahan Mataram Kuno bersifat monarki Hindu-Buddha, di mana raja dianggap sebagai wakil dewa di bumi. Raja memiliki kekuasaan tertinggi dalam segala bidang, termasuk politik, ekonomi, dan agama. Raja dibantu oleh para pejabat kerajaan dalam menjalankan pemerintahan.
5. Apa saja sumber-sumber sejarah yang digunakan untuk mempelajari Mataram Kuno?
Sumber-sumber sejarah utama untuk mempelajari Mataram Kuno meliputi prasasti-prasasti seperti Prasasti Canggal, Prasasti Kalasan, dan Prasasti Telaga Batu. Selain itu, catatan-catatan dari para biksu Buddha dan pedagang asing juga memberikan informasi berharga mengenai kerajaan ini.
Gabung dalam percakapan