Suka Sejarah

Sejarah Kesenian Jaranan Kediri: Asal Usul dan Maknanya

traditional dance java, wallpaper, Sejarah Kesenian Jaranan Kediri: Asal Usul dan Maknanya 1

Sejarah Kesenian Jaranan Kediri: Asal Usul dan Maknanya

Kediri, sebuah kota di Jawa Timur yang kaya akan peninggalan sejarah, tidak hanya dikenal karena kejayaan Kerajaan Panjalu di masa lampau, tetapi juga karena warisan budayanya yang masih hidup hingga saat ini. Salah satu manifestasi budaya yang paling mencolok dan masih sangat digemari oleh masyarakat setempat adalah kesenian Jaranan. Pertunjukan ini bukan sekadar tarian, melainkan sebuah perpaduan antara seni gerak, musik, dan unsur spiritual yang mendalam, yang telah mengakar kuat dalam identitas sosial masyarakat Kediri.

Bagi masyarakat awam, Jaranan mungkin terlihat sebagai pertunjukan tari kuda lumping biasa. Namun, jika kita menilik lebih dalam, setiap hentakan kaki, bunyi kendang, dan gerakan penari membawa pesan tentang sejarah, perjuangan, dan hubungan manusia dengan alam semesta. Kesenian ini telah melewati berbagai transformasi zaman, mulai dari ritual sakral di lingkungan istana hingga menjadi hiburan rakyat yang kerap mengisi berbagai acara hajatan maupun festival budaya di tingkat daerah.

traditional dance java, wallpaper, Sejarah Kesenian Jaranan Kediri: Asal Usul dan Maknanya 2

Akar Sejarah Kesenian Jaranan di Kediri

Menelusuri sejarah kesenian jaranan kediri membawa kita kembali pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan di Jawa Timur. Meskipun catatan tertulis secara spesifik mengenai awal mula munculnya Jaranan di Kediri cukup terbatas, banyak sejarawan budaya berpendapat bahwa tarian ini merupakan representasi dari latihan keprajuritan masa lalu. Pada era kerajaan, kuda adalah simbol kekuatan, keberanian, dan status sosial. Para prajurit kavaleri menggunakan kuda untuk berperang, dan gerakan-gerakan dalam Jaranan diyakini sebagai stilasi atau penyederhanaan dari gerakan prajurit yang sedang menunggangi kuda di medan laga.

Selain aspek militer, ada pula teori yang mengaitkan Jaranan dengan bentuk protes sosial atau kritik terselubung terhadap kolonialisme. Di masa penjajahan, masyarakat pribumi seringkali tidak memiliki ruang untuk menyuarakan kegelisahan mereka. Seni pertunjukan menjadi media yang paling aman. Dengan menggunakan topeng atau kuda-kudaan, masyarakat bisa menyisipkan pesan perlawanan melalui simbol-simbol tertentu tanpa terdeteksi secara langsung oleh penguasa kolonial. Hal ini menjadikan Jaranan bukan hanya sekadar tarian, tetapi juga alat pemersatu rakyat dalam menghadapi tekanan eksternal.

traditional dance java, wallpaper, Sejarah Kesenian Jaranan Kediri: Asal Usul dan Maknanya 3

Dalam perkembangannya di wilayah Kediri, Jaranan mengalami akulturasi dengan berbagai kepercayaan lokal. Unsur animisme dan dinamisme yang sudah ada sebelum masuknya agama-agama besar tetap bertahan dalam bentuk ritual-ritual tertentu. Penggunaan sesaji, dupa, dan mantra dalam pembukaan pertunjukan menunjukkan bahwa Jaranan masih memegang teguh penghormatan terhadap leluhur dan roh penjaga alam. Inilah yang membuat Jaranan Kediri memiliki karakteristik yang berbeda dengan Jaranan dari daerah lain, karena ia menyerap energi spiritual dari tanah Kediri yang sarat akan legenda.

Filosofi dan Simbolisme dalam Pertunjukan

Setiap elemen dalam pertunjukan Jaranan memiliki makna filosofis yang dalam. Kuda yang terbuat dari anyaman bambu (kepang) bukan sekadar properti, melainkan simbol dari kendali diri. Menunggangi kuda melambangkan upaya manusia untuk mengendalikan nafsu dan ego mereka. Ketika seorang penari mampu menggerakkan kudanya dengan harmonis, itu menandakan bahwa manusia tersebut telah mencapai keseimbangan antara pikiran, raga, dan jiwanya.

traditional dance java, wallpaper, Sejarah Kesenian Jaranan Kediri: Asal Usul dan Maknanya 4

Salah satu aspek yang paling menarik sekaligus kontroversial adalah kondisi 'ndadi' atau trance. Dalam kondisi ini, penari dianggap kehilangan kesadaran dan dimasuki oleh roh halus. Secara filosofis, kondisi ini melambangkan penyatuan antara dunia material dan dunia spiritual. Penari yang sedang ndadi seringkali melakukan hal-hal yang di luar nalar, seperti memakan kaca atau mengupas kelapa dengan gigi. Fenomena ini dipandang sebagai pengingat bahwa ada kekuatan besar di luar kendali manusia yang harus dihormati.

Warna pakaian yang digunakan oleh para penari juga tidak sembarangan. Warna merah seringkali mendominasi, yang melambangkan keberanian dan semangat yang membara. Warna kuning melambangkan kejayaan dan kemuliaan, sementara hitam melambangkan keteguhan hati dan misteri kehidupan. Perpaduan warna-warna ini menciptakan komposisi visual yang energik, mencerminkan karakter masyarakat Kediri yang terbuka namun tetap memegang teguh prinsip dan tradisi.

traditional dance java, wallpaper, Sejarah Kesenian Jaranan Kediri: Asal Usul dan Maknanya 5

Jenis-Jenis Jaranan yang Populer di Kediri

Kesenian Jaranan di Kediri tidaklah tunggal, melainkan terbagi menjadi beberapa aliran atau jenis yang memiliki karakteristik berbeda. Perbedaan ini biasanya terletak pada ritme musik, gaya tarian, hingga kostum yang digunakan. Sebagai bagian dari kekayaan budaya Jawa Timur, variasi ini menunjukkan betapa dinamisnya perkembangan seni di wilayah ini.

Jaranan Dor

Jaranan Dor adalah salah satu jenis yang paling populer. Ciri khas utamanya terletak pada penggunaan instrumen musik yang lebih dominan pada bunyi drum atau kendang besar (dor). Musiknya cenderung lebih keras, cepat, dan menghentak. Gerakan penarinya pun lebih agresif dan energik. Jaranan Dor biasanya lebih menekankan pada aspek hiburan massal dan sering dipentaskan dalam acara-acara terbuka dengan jumlah penonton yang besar.

traditional dance java, wallpaper, Sejarah Kesenian Jaranan Kediri: Asal Usul dan Maknanya 6

Jaranan Pegon

Berbeda dengan Jaranan Dor, Jaranan Pegon memiliki sentuhan yang lebih halus dan seringkali dipengaruhi oleh unsur-unsur Islam. Hal ini terlihat dari beberapa gerakan tarian yang lebih tertata dan penggunaan kostum yang lebih tertutup. Jaranan Pegon cenderung menampilkan narasi cerita yang lebih terstruktur, seringkali mengangkat tema-tema moralitas atau sejarah perjuangan tokoh-tokoh lokal. Musik pengiringnya pun biasanya lebih variatif dengan perpaduan instrumen yang lebih kaya.

Jaranan Senterewe

Jaranan Senterewe adalah bentuk evolusi yang lebih modern. Gaya tariannya lebih lincah, cepat, dan banyak menggunakan variasi gerakan yang kompleks. Kostum yang digunakan biasanya lebih berwarna-warni dan mencolok dibandingkan jenis Jaranan lainnya. Senterewe sering dianggap sebagai representasi dari semangat jiwa muda yang dinamis, namun tetap tidak meninggalkan akar tradisi aslinya.

Instrumen Musik dan Perlengkapan Pendukung

Keindahan Jaranan tidak lepas dari iringan musik gamelan yang khas. Musik bukan sekadar pengiring, melainkan pemberi komando bagi para penari. Ritme musik yang berubah-ubah menentukan kapan penari harus bergerak tenang dan kapan mereka harus memasuki fase klimaks atau kondisi trance. Penggunaan instrumen ini menonjolkan berbagai bentuk seni tradisional yang masih lestari di tengah gempuran musik modern.

  • Kendang: Berfungsi sebagai pengatur tempo dan pemberi aba-aba gerakan.
  • Gong: Memberikan penekanan pada akhir siklus musik dan menciptakan nuansa sakral.
  • Kenong dan Kempul: Memberikan warna nada yang mengisi kekosongan ritme.
  • Saron atau Slenthem: Memberikan melodi dasar yang membawa suasana pertunjukan.

Selain alat musik, perlengkapan seperti 'Sampur' (selendang) memiliki fungsi penting. Sampur tidak hanya sebagai hiasan, tetapi juga digunakan oleh penari untuk memberikan isyarat tertentu atau digunakan oleh sang 'Pawang' untuk memanggil kembali kesadaran penari yang sedang dalam kondisi ndadi. Peran Pawang sangat krusial dalam pertunjukan Jaranan, karena dialah yang bertanggung jawab menjaga keselamatan para penari dan memastikan pertunjukan berjalan sesuai dengan aturan adat.

Peran Kesenian Jaranan dalam Masyarakat Modern

Di era globalisasi, banyak kesenian tradisional yang mulai ditinggalkan. Namun, Jaranan di Kediri justru menunjukkan daya tahan yang luar biasa. Hal ini disebabkan oleh adanya dukungan dari komunitas lokal yang sangat kuat. Jaranan bukan lagi sekadar tontonan, tetapi telah menjadi wadah interaksi sosial. Kelompok-kelompok Jaranan biasanya terbentuk berdasarkan ikatan ketetanggaan, sehingga latihan rutin menjadi ajang silaturahmi antarwarga.

Pemerintah daerah Kediri juga berperan aktif dalam mempromosikan Jaranan sebagai daya tarik wisata. Festival Jaranan yang diadakan secara rutin tidak hanya menarik wisatawan domestik, tetapi juga mancanegara. Dengan mengemas pertunjukan tradisional dalam format festival yang rapi, nilai ekonomi dari kesenian ini meningkat, yang pada gilirannya memotivasi para seniman untuk terus berkarya dan berinovasi tanpa menghilangkan esensi aslinya.

Bagi generasi muda di Kediri, mempelajari Jaranan menjadi cara untuk terhubung dengan identitas leluhur mereka. Di tengah gempuran budaya pop, muncul tren di mana anak muda mengombinasikan gerakan Jaranan dengan elemen kontemporer. Hal ini dipandang positif sebagai bentuk adaptasi budaya agar tetap relevan dengan zaman. Selama nilai-nilai dasar seperti gotong royong, keberanian, dan penghormatan terhadap alam tetap terjaga, inovasi dalam penyajian Jaranan justru akan memperkuat eksistensinya.

Tantangan dalam Pelestarian Jaranan

Meskipun populer, Jaranan tetap menghadapi tantangan. Salah satunya adalah stigma negatif terkait unsur mistis yang sering disalahpahami oleh sebagian orang. Kondisi trance sering dikaitkan dengan hal-hal yang menyeramkan atau bahkan dianggap menyimpang. Oleh karena itu, penting bagi para penggiat seni untuk mengedukasi masyarakat bahwa aspek spiritual dalam Jaranan adalah bagian dari kekayaan budaya dan bentuk ekspresi psikologis, bukan sesuatu yang harus ditakuti.

Selain itu, ketersediaan bahan baku untuk membuat kuda kepang yang berkualitas juga menjadi kendala. Bambu tertentu yang tahan lama kini mulai sulit ditemukan. Namun, kreativitas para pengrajin di Kediri dalam mencari alternatif bahan tanpa mengurangi estetika menunjukkan bahwa semangat pelestarian budaya masih sangat tinggi. Dukungan dalam bentuk pelatihan pembuatan kostum dan alat musik bagi remaja perlu ditingkatkan agar rantai pewarisan ilmu tidak terputus.

Kesimpulan

Sejarah kesenian jaranan kediri adalah cerminan dari perjalanan panjang masyarakat Kediri dalam memaknai kehidupan, kekuatan, dan spiritualitas. Dari akar keprajuritan masa kerajaan hingga menjadi hiburan rakyat yang dinamis, Jaranan telah membuktikan dirinya sebagai entitas budaya yang adaptif. Ia tidak hanya menawarkan keindahan visual dan auditori, tetapi juga membawa pesan moral tentang pengendalian diri dan harmoni antara manusia dengan alam semesta.

Menjaga kelestarian Jaranan berarti menjaga potongan sejarah yang masih bernapas. Dengan dukungan semua pihak, mulai dari pemerintah, seniman, hingga generasi muda, diharapkan kesenian ini akan terus bergema di tanah Kediri, menjadi pengingat bahwa di tengah kemajuan teknologi, ada akar tradisi yang memberi kita kekuatan dan identitas sebagai bangsa yang besar.

Frequently Asked Questions

Apa perbedaan utama antara Jaranan Dor dan Jaranan Pegon di Kediri?
Jaranan Dor lebih menonjolkan energi yang agresif dengan musik yang didominasi oleh suara kendang besar (dor) yang keras, sehingga lebih bersifat hiburan massal. Sementara Jaranan Pegon memiliki gerakan yang lebih halus, struktur cerita yang lebih jelas, dan seringkali memasukkan unsur-unsur nilai moral atau religi dalam pertunjukannya.

Mengapa penari jaranan bisa mengalami kondisi tidak sadar atau trance?
Kondisi ini disebut 'ndadi', yang secara budaya dipandang sebagai masuknya roh halus ke dalam tubuh penari. Secara psikologis, hal ini bisa terjadi karena stimulasi musik yang ritmis, konsentrasi tinggi, dan sugesti lingkungan. Dalam konteks budaya, ini adalah bentuk penyatuan antara dunia fisik dan spiritual.

Apa makna simbolis dari penggunaan kuda-kudaan dalam tarian ini?
Kuda melambangkan kekuatan, keberanian, dan status. Menggunakan kuda kepang (anyaman bambu) melambangkan upaya manusia untuk mengendalikan nafsu dan ego mereka. Keharmonisan antara penari dan kudanya mencerminkan keseimbangan hidup yang ideal antara raga dan jiwa.

Bagaimana peran Pawang dalam sebuah pertunjukan Jaranan?
Pawang berperan sebagai pemimpin spiritual dan pengawas keselamatan. Ia bertugas membuka pertunjukan dengan ritual, mengarahkan jalannya tarian, dan yang paling penting adalah mengembalikan kesadaran penari yang sedang dalam kondisi ndadi agar tidak membahayakan diri sendiri maupun penonton.

Apakah kesenian Jaranan masih relevan bagi generasi muda saat ini?
Sangat relevan. Jaranan kini menjadi media bagi generasi muda untuk mengekspresikan jati diri dan kebanggaan daerah. Dengan adanya festival budaya dan integrasi ke dalam kegiatan sekolah atau komunitas, Jaranan bertransformasi menjadi seni pertunjukan yang trendi namun tetap sarat akan nilai sejarah.

Assalamu'alaikum wr. wb. Hello, how are you? Introducing us Jatilengger TV. The author, who is still a newbie, was born on January 16, 1989 in Blitar and is still living in the city of Mendoan. About starting this blog, it started with a passion for writing fiction, which eventually had to be written down in a scribble or note to immortalize it. Which is then able to pour ideas on this blog. All of that, of course, really hope to be useful for readers everywhere. I currently work as an entrepreneur in Blitar, East Java. On the sidelines of busyness, I try to write and share through blogs. For cooperation, of course, I really accept forms of cooperation such as: Advertisement, Product Review, Event Collaboration, and others. That's a short profile about myself, I hope you like to visit my blog. Thank you. :) Wassalamu'alaikum wr. wb.