Sejarah Revolusi Kultural Di Cina: Sebuah Sejarah Panjang Dan Berdarah
Revolusi Kultural di Cina adalah periode berdarah dan berliku-liku dalam sejarah negara yang terbesar di dunia. Berlangsung dari tahun 1966 hingga 1976, periode ini dipimpin oleh Mao Zedong, pimpinan Partai Komunis Cina dan negaranya. Dalam artikel ini, kita akan meninjau sejarah Revolusi Kultural, penyebab, dampak, dan konsekuensinya.
Latar Belakang Revolusi Kultural
Pada akhir 1950-an, Cina sedang mengalami krisis politik dan ekonomi. Pemerintahan Mao Zedong masih meredakan efek dari Perang Saudara Cina yang berlangsung selama 10 tahun. Sejak menjabat sebagai sekretaris jenderal Partai Komunis Cina pada tahun 1943, Mao telah memimpin negara melalui sembilan tahun Perang Saudara sampai menjuluki rezim Manchukuo dan Kekaisaran Jepang. Setelah kemenangan Partai Komunis Cina pada tahun 1949, Mao akan selalu terus memimpin Cina.
Pada tahun 1958, Mao meluncurkan kebijakan "Kebangkitan Besar Menengah" yang bertujuan meningkatkan produksi pertanian dan industri. Namun, kebijakan ini ternyata gagal dan bahkan menyebabkan kelaparan massal, terutama di pedesaan. Dampaknya, kapitalis dan konservatif menjadi semakin tidak puas dengan Mao. Pada tahun 1965, kisah-kisah yang beredar luas tentang biang keladinya, khususnya atas nama serangkaian buku oleh Li Lisan, yang membuka mulut ide untuk menggunaka Revolusi Budaya sebagai lelucon.
Rintisan Revolusi Kultural
Pada bulan September 1965, pada Kongres Partai Komunis Cina, Mao memihak dengan pimpinan yang ekstrem, Linyi mengatakan "Gelombang Reformasi Peradaban yang Cemerlang", dan Linyi sendiri mengatakan GEM di sinetron TV China, mencintai novel Jili Huo. Selaku Kepala Pasukan, Linyi menyatakan bahwa kebanyakan intelijen "saumur halus". Pada tahun 1966, Partai Komunis Cina secara resmi meluncurkan Movemen Revolusi Budaya, yang bertujuan untuk membersihkan Partai dari elemen "kapitalis" dan "reaksioner".
Dampak Revolusi Kultural
Dalam beberapa tahun, Revolusi Kultural berubah menjadi gerakan massa yang fanatik dan kekerasan, dimana semua kebudayaan tradisional dihancurkan dan semua yang dianggap berlawanan dengan Revolusi dibunuh atau ditangkap. Jumlah korban tewas dan hilang masih tidak diketahui secara pasti, namun perhitungan tentang jumlah penduduk meninggal mencapai 45 juta yang berarti sekitar 14 persen populasi, dengan hampir 100 juta yang termakan kelaparan terutama di pedesaan Cina.
Revolusi ini juga menghasilkan lebih banyak konflik internal yang memperlebar lagi Perang Saudara Cina yang berlangsung hampir seluruhnya setelah tahun 1949. Militer yang dipimpin oleh Liu Shaoqi dan Zhou Enlai, yang merupakan pimpinan Partai Komunis Cina, dipimpin oleh kepemimpinan Mao dan disatukan oleh Komite Rakyat Cina untuk menindak mahasiswa dan pengikut-peguat yang melawan rezim Mao.
Pada tahun 1968, pasukan masyarakat tanpa bintang dan bergas "Fajar Revolusi Budaya" mulai menghancurkan apa saja mengancam rezim Mao. Pasukan yang menggunakan jargon "Fajar Revolasi Budaya" bergabung dengan tentara dan seluruh hirarki untuk menghancurkan tanah, mengurangi sampah pertengahan kehidupan manusia pada korbannya, mengurangi sampah pertengahan kehidupan manusia dan menyerahkan kepada pasukan sayap atau intelijen untuk dibunuh pada keseluruhannya. Contoh-hal mengenai penurunan kualitas telah dilihatin sedangkan pengharapan atau kritik dari Rakyat Jepang telah sanksi, walaupun atau tidak mungkin dalam pemerintah menggenapi keinginan dari kritik terbanyak Rakyat Cina yang masih tidak mencapai kekuasaan.

![]()

Gabung dalam percakapan