Profil Dr. Kh. Ma'ruf Amin – Ulama, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia
Dan Rais 'Aam Pbnu

Profil Dr. Kh. Ma'ruf Amin – Ulama, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Dan Rais 'Aam Pbnu

Posted on · 7 min read

 Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia dan Rais  Profil DR. KH. Ma'ruf Amin - Ulama, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia dan Rais 'Aam PBNUBiodata Ma’ruf Amin

  • Lahir: 1 Agustus 1943 Tangerang, Djawa Barat
  • Partai politik: Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Persatuan Pembangunan
  • Istri: Siti Churriyah, Wury Estu Handayani
  • Putra/putri: delapan anak, terdiri enam putri dan dua putra
  • Ayah: KH. Mohamad Amin
  • Alma mater: Universitas Ibnu Chaldun
  • Pekerjaan: Dosen, Politisi, Ulama
  • Agama: Islam

DR. KH. Ma’ruf Amin adalah seorang ulama besar, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan juga Rais ‘Aam PBNU. Selain sebagai Ulama besar, ia sekaligus politisi di Indonesia yg sangat berpengaruh. Beliau mengemban jabatan anggota Dewan Pertimbangan Presiden sejak  2007 hingga 2010.

Pendidikan

Dr. KH. Ma`ruf Amin lahir pada 11 Maret 1943 di Desa Kresek, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang. Ayahnya bernama KH. Mohamad Amin, ulama besar di wilayah Barat Tangerang yg muridnya tersebar dipenjuru Banten.

Pendidikan di masa kecilnya, Ma`ruf jalani di Desa Kresek, Tangerang. Pagi Sekolah di SD, sorenya mengaji ke Madrasah Ibtidaiah (MI). Semasa pendidikan dasar, Ma`ruf juga sempat mondok selama enam bulan di Pesantren Citangkil, Silegon, Banten. Pesantren yang didirikan oleh KH. Syam`un Alwiah (1894-1949) menjadi Pesantren generasi pertama yg alumnusnya banyak melanjutkan pendidikan ke Al-Azhar, Mesir. Salah-satunya adalah Prof. Dr. KH. Wahab Afif mantan Ketua MUI Banten 2001-2011 sekaligus mantan Dekan Fakultas Syariah IAIN Banten 1979-1985.

Saat berusia 12 tahun (1955), selepas pendidikan dasar dari Pesantren Citangkil, Ma`ruf merantau ke Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur. Kesamaan anak muda di kampung Ma`ruf memang melanjutkan belajar ke Pesantren di Jawa Timur. Sebagian besar ke Tebu Ireng, sebagiannya lagi ke Pondok Modern Daarussalam, Gontor.

Kiyai amin (sang ayah) melarang putranya nyantri ke Gontor, kiyai amin lebih cocok dengan pesantren salafiah semacam Tebu Ireng. Alasan utamanya adalah bahwa KH. Hasim As`ari (salah sesuatu pendidri NU) adalah murid Syiekh Nawawi Al-Bantani, ulama terkemuka asal Banten, yang menghabiskan banyak waktu mengajar di Makkah.

KH. Ma`ruf Amin masih memiliki kaitan kekerabatan dengan Syeikh Nawawi Al-Bantani. Bukan keturunan segera, saudara Syeikh Nawawi milik keturunan yang bersilsilah sampai kepada KH. Ma`ruf Amin. Kelak pada tahun 2001, KH. Ma`ruf Amin mendirikan Pesantren untuk melanjutkan perjuangan Syeikh Nawawi Al-Bantani. Namanya Pesantren An-Nawawi, berlokasi di Desa Tanara, Tirtayasa, Serang, Banten.

Di Tebu Ireng, Ma`ruf kecil memulai pendidikan dari jenjang dasar, Madrasah Ibtidaiyah, pada kelas akhir, salah satu kesan pertama ketika mondok adalah ketika Ma`ruf yang bertubuh kecil harus memanggul Kitab Iqna` yg tebal.

Ma`ruf kecil mulai nyantri di Jombang tepat pada tahun politik, menjelang Pemilu pertama, 29 September 1955. Meski jombang menjadi sentra para tokoh politik pelopor NU, Maruf merasa tak memperoleh indoktrinasi poilitik tertentu. Saat itu, Tebu Ireng dibawah pengasuh KH. Abdul Kholiq Hasyim (1916-1965), putra keenam KH. Hasyim As`ari. Kiyai Kholik melarang aktivitas politik di Pesantren. Pondok cuma bagi ibadah dan mengaji.

Sepulang Dari Tebu Ireng, Ma`ruf Amin pernah masuk SMA Muhamadiyyah di Jakarta. Ia ingin belajar pengetahuan umum. Tapi akhirnya tak diselesaikan. Ia kemudian mondok lagi ke beberapa pesantren di Banten. Dalam waktu singkat-singkat. Antara yang lain, Pesantren Caringin, Labuan, Pesantren Petir, Serang, dan Pesantren Pelamunan, Serang.

Menikah dan Kuliah

Usai berkeliling kebeberapa pesantren, Kiyai Ma`ruf Amin menikah dengan Hj. Siti Huriyah, keduanya masih ada hubungan kerabat, dan sama-sama putra ulama besar di Kresek. Setelah menikah, KH. Mar`ruf pada tahun 1963 (usia 20 tahun), hijrah ke Tanjung priuk, Jakarta Utara. Setahun kemudian, KH. Ma`ruf Amin kuliah di Fakultas Ushuludin, Universitas Ibnu Choldun, Jakarta. Sembari kuliah, KH. Maruf Amin memimpin Gerakan Pemuda Ansor, akan Ketua Ranting Kecamatan Koja, sampai Cabang Jakarta Utara, Ia menjadi Ketua GP. Ancor Kota Jakarta Utara pada tahun 1964-1966.

Politik

Kiprah pergerakan KH. Ma`ruf Amin paling nyata adalah pada PEMILU 1971, itu menjadi momentum pertama yan menghantarkan KH. Ma`ruf Amin menjadi Anggota DPRD Daerah Khusus Ibukota Jakareta, pada usia 28 Tahun. Beberapa thun kemudian, tepatnya Tahun 1989, Mukhtamar NU di Pesantren Krapyak, menjadi babak baru aktifitas KH. Ma`ruf Amin dilingkungan elit Kepengurusan PBNU. KH. Ma`ruf Amin dipercaya menjadi Khatib Aam Syuriah PBNU, mendampingi Rais Aam Syuriah KH. Ahmad Siddik dan Wakil Rais Aan KH. Ali Yafie. Untuk tingkat Tanfidziyah, KH. Abdurraman Wahid (Gusdur) terpilih kembali bagi periode kedua.

Pada tanggal 3 Juni 1998, saat gelora reformasi bergemuruh, pertemuan harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU menetapkan membentuk Tim Lima yang diketuai KH. Ma`ruf Amin. Anggotanya KH. M. Dawam Anwar (Khatib Aam PBNU), KH. Dr. Said Aqil Siradj, M. Rozy Munir, dan Ahmad Bagja (Sekjen PBNU). Dari Tim Limalah cikal bakal kelahiran Partai Kebangkitan bangsa itu hadir.

Pasca Gusdur jatuh, aktivitas KH. Ma`ruf Amin cendrung menurun, dan karenanya lebih banyak makan waktu di Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI. Sejak tahun 2000, beliau ini menjadi Ketua Komisi Fatwa MUI, pasca mukhtamar PKB Surabaya (2001) KH. Ma`ruf Amin tidak lagi menjadi Dewan Syuro PKB karena digantikan Gusdur. Selain itu, ayah dari Hj. Siti Haniatunnisa, LLB ini tak lagi menjadi Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat-RI yang membidangi agama.

Rentang waktu yang cukup panjang (2001-2007) KH. Maruf Amin menghidmatkan dirinya di MUI Pusat, sebagai Ketua Komisi Fatwa dan DSN. Selanjutnya tahun 2007 KH. Ma`ruf Amin dipercaya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Kepala Negara (Watimpres) unsur Ulama. Sejarah panjang di Watimpres dan pada Muhktamar NU ke 33 di Jombang menghantarkan Putra Banten ini menjadi pemipin tertinggi (Rois Aan) PBNU periode 2015-2020. Bersamaan dengan itu, Kiyai yg sangat menyayangi putra-putrinya ini, pula dipercaya para Ulama Indonesia bagi Memimpin MUI Pusat untuk lima tahun kedepan.

Menjadi Saksi di Sidang masalah penistaan Agama, dengan Terdakwa Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok

Dalam sidang kedelapan perkara Ahok pada 31 Januari  2017, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin dihadirkan sebagai saksi selama 7 jam. Terdakwa Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok diadili dalam sidang atas dugaan penistaan agama dengan menyinggung Al Qur’an Surat Almaidah 51. Penistaan tersebut dikerjakan di Kepulauan seribu tahun 2016.

Terdakwa masalah penistaan agama yg juga gubernur nonaktif Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, sempat mengatakan rencana melaporkan Ketua Generik Majelis Ulama Indonesia KH Ma’ruf Amin karena memberikan informasi palsu.

Ahok juga menduga, Ma’ruf yg pernah menjabat Dewan Pertimbangan Presiden, menutupi diri pernah menjabat posisi itu pada masa pemerintahan Kepala Negara Susilo Bambang Yudhoyono. Ma’ruf, kata dia, tidak mencantumkan jabatan itu dalam Berita Acara Inspeksi (BAP) di kepolisian. Padahal, seluruh jabatannya selama ini ditulis kecuali hal itu.

Namun akhirnya Ahok minta maaf kepada KH Ma’ruf Amin. Selain itu, usai  beberapa tokohpun mendatangi rumah KH Ma’ruf Amin seperti Luhut dan Yenny Wahid.

Pendidikan:

  • Sekolah Dasar (SD), Tangerang
  • Madrasah Ibtidaiah (MI), Tangerang
  • Pesantren Citangkil, Silegon, Banten
  • Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur.
  • SMA Muhamadiyyah di Jakarta
  • Pesantren di Bogor: Pesantren Caringin (Labuan), Pesantren Petir (Serang), dan Pesantren Pelamunan (Serang).
  • Fakultas Ushuludin, Universitas Ibnu Khaldun, Bogor

Organisasi

  • Memimpin Gerakan Pemuda Ansor, akan Ketua Ranting Kecamatan Koja, sampai Cabang Jakarta Utara, Ia menjadi Ketua GP. Ancor Kota Jakarta Utara pada tahun 1964-1966.

Politik:

  • Anggota DPRD Daerah Khusus Ibukota Jakareta, pada usia 28 Tahun
  • Khatib Aam Syuriah PBNU, 1989

Karir

  • Anggota Dewan Pertimbangan Kepala Negara Bidang Hubungan Antar Agama (2010 – 2014)
  • Anggota Dewan Pertimbangan Kepala Negara Bidang Kehidupan Beragama (2007-2009)
  • Anggota Koordinator Da’wah (KODI) jakarta
  • Anggota BAZIS jakarta
  • Ketua Fraksi Golongan Islam DPRD DKI Jakarta
  • Ketua Fraksi PPP DPRD DKI Jakarta
  • Pimpinan Komisi A DPRD jakarta
  • Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (pertama)
  • Anggota MPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
  • Ketua Komisi VI DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
  • Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat sejak tahun 2000
  • Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)
  • Penasehat Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM-PBNU)
  • Dosen STAI Shalahuddin Al-Ayyubi Jakarta
  • Rais ‘Aam PBNU 2015-2020.
  • Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI 2015

Sumber:

  • http://mui.or.id/index.php/2015/11/02/dr-hc-kh-maruf-amin/
  • https://kabartangerang.com/tokoh/
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Maruf_Amin