Stephen Hawking adalah salah satu tokoh ilmiah paling berpengaruh dalam sejarah, yang tidak hanya meninggalkan kesan yang mendalam dalam komunitas sains, tetapi juga mampu menginspirasi generasi-generasi mendatang. Meskipun dia terhambat oleh ketahanan fisik yang luar biasa, Hawking tetap menjadi sumber inspirasi bagi semua orang yang mencintai sains.
Latar Belakang dan Karier
Stephen William Hawking lahir pada tanggal 8 Januari 1942 di Oxford, Inggris. Ayahnya, Frank Hawking, seorang ekonom moral, dan ibunya, Isobel Hawking, seorang ahli entomologi. Hawking memiliki dua saudara laki-laki, Perry dan Edward. Pada usia 8 tahun, Hawking menderita serangan aritmia atrial, yang membuatnya kehilangan kemampuan berbicara dan berjalan.
Pada tahun 1962, Hawking diterima di University of Oxford untuk belajar fisika. Sayangnya, Hawking tidak dapat menyelesaikan studi S1 karena masalah yang dialaminya. Namun, ia masih bersemangat untuk belajar dan pada tahun 1964, Hawking diterima di University of Cambridge untuk belajar fisika. Dalam tempo yang singkat, Hawking berhasil menyelesaikan gelarnya di Cambridge dan menjadi ahli fisika terkemuka di bidang kosmologi.
Kerja dan Penemuan
Hawking dikenal karena penelitiannya tentang teori gravitasi dan partikel asli. Pada tahun 1974, Hawking menemukan sebagai ahli yang terakhir dari teori sifat isotropik adiabatik yang digunakan untuk mendeskripsikan kondisi awal alam semesta. Hal ini menunjukkan bahwa informasi tidak dapat disimpan di dalam lubang hitam dan menyebabkan kontroversi dalam komunitas sains.
Di samping itu, Hawking juga terlibat dalam penelitian tentang kosmologi dan awal alam semesta. Pada tahun 1983, ia menuliskan buku “Bukti yang Tak Terlihat” (bahasa Inggris: “A Brief History of Time for Young People” bukan versi lengkap), yang dianggap sebagai salah satu buku fisika yang paling populer dalam kancah sains. Buku ini menjelaskan masalah awal alam semesta, gravitasi, dan lubang hitam dengan cara yang mudah dimengerti.
Ketahanan dan Inspirasi
Meskipun serangan aritmia membuat Hawking hidup dalam kursi roda, dia tidak pernah menyerah. Mereka yang tahu Stephen Hawking untuk pertama kalinya belum sebelum meninggalnya, tetapi lebih mereka menerimanya, apabila dirinya seseorang yang sudah pergi. Sejak tahun 1963 ia mengalami inflasi otak dan menderita motor neuron disease yaitu penyakit amyotrophic lateral sclerosis (ALS), yang menyebabkan fungsi motor yang pelan-pelan menghilang.
Namun, Hawking tidak ingin keterbatasannya menghalangi kegembiraan dia dalam menjelajahi dunia sains. Ia terus bekerja dan memberikan kuliah-kuliah yang menarik di seluruh dunia. Hawking juga menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang dengan bukunya yang populer dan penampilannya yang ikonik.

Kematian dan Warisan
Stephen Hawking meninggal pada tanggal 14 Maret 2018 di usianya ke-76. Kematian Hawking menyebabkan peringatan global untuk mengenang kehidupannya yang luar biasa. Berdasarkan kontribusinya dalam bidang sains, Hawking diakui sebagai salah satu tokoh ilmiah terbesar abad ke-20.
Stephen Hawking meninggalkan warisan yang lebih mengagumkan lagi dari apa yang terjadi dalam sejarah. Aktivitasnya mengajarkan bahwa tidak ada batasan untuk mencapai kesuksesan, dan bahwa yang penting adalah jati diri serta semangat.
![]()

