Affandi: Pelukis Ekspresionis Terkemuka Indonesia
Indonesia yang kaya akan budaya dan sejarah memiliki banyak pelukis terkenal yang telah meninggalkan jejak pengaruhnya pada dunia seni. Salah satu pelukis ekspresionis terkemuka Indonesia adalah Affandi, yang pada tahun 1927, dipindahkan dari Jepara ke Yogyakarta dengan tokoh seni andalan Affandi yang sejak kecil lebih menggemari belajar seni terutama lukisan. Pada awalnya ingin melanjutkan sekolah menengah, namun dia tidak begitu berminat dengan belajar di lembaga pendidikan.
Lahir dan Kehidupan Awal
Affandi dilahirkan pada 31 Juli 1907 di Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia. Dia berasal dari keluarga sederhana, sungguhpun ayahnya memiliki lahan yang cukup luas dengan menanam pohon kelapa dan lada. Pendidikan formal Affandi tidaklah lengkap karena atas keinginannya sendiri yang lebih ingin menangkap pengalaman hidup pada masa dewasanya. Ayahnya yang bekerja sebagai penjual batu tulis melakukan banyak perjalanan perdagangan. Pada masa kecil, Affandi bergaul dengan ayahnya; terlepas dari melihat tempat-tempat curian, mengawini perempuan di Jawa Tengah.
Pengaruh dan Karir
Pengaruh atas hidup Affandi dari sinilah lahir pengembaraannya. Pada masa balita dia pernah mendengar cerita silat, sihir dan penasaran bermain gasing dia pelajari dengan baik. Pengembaraan ayahnya telah mempunyai ketenangan pada diri Affandi tentang gaya perjalanan. Alasan ini adalah mengapa Affandi sempat menempuh pendidikan sederajat sebelum mengikuti keinginannya. Dengan menapaki kemampuan beragamnya dia telah memiliki kesabaran dengan bergembira waktu mendengarkan kisah dalam berada di tengah-tengah perjalanan tersebut.
Namun perjalanan ayahnya sulit bagi Affandi, karena ini telah memicu alasan yang menjadikannya dia kehilangan nafsu untuk belajar. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk bekerja sama dengan kakeknya yang merupakan penjual bahan bangunan di Jepara. Hal ini juga mengingatkan kembali dia mengenang masa remaja orang-orang di Jepara yang menggambarkan kehidupan petani yang berbentuk keras. Sudah sepatutnya tergambarkan dalam karya Affandi dari masa penjajahan Nederlands. Atas landasan pengalaman itu, dia mulai mengasah bakatnya dalam menggambar beraneka lanskap.
Ketika Affandi dewasa, dia pergi melanjutkan study ke Yogyakarta di bawah wing mahasiswa bapak Otto Rudolf, bapaknya antropologi terkenal Indonesia. Kemudian Affandi berkembang dalam melukis antropologi sebagai manifesto. Bapak Otto Rudolf adalah pengaruh andalan yang menghasilkan pandangan yang kuat dalam mendalami karya budaya India. Gaya pelukisan Affandi perlu dimiliiki bagi penggemar dari mulai muda sampai tua. Pada tahun 1948, Affandi memiliki galeri sendiri bernama Graha Karsa di Yogyakarta. Affandi banyak memiliki inspirasi pada seluruh prinsip dan semesta jagad, gambar-gambar Affandi ada baik yang artistik dalam keseluruhan dan juga memiliki perspektif berupa filosofi yang lumrah dalam pengamatan.
Karya dan Pengaruh
Affandi menikami di Yogyakarta. Banyak karya seni lukis yang penting dalam era pasca-kemerdekaan ini bahkan salah satunya tersimpan tidak kurang dari sebuah kebiasaan perasaannya. Dia berperan di masa perjuangan dalam menyuarakan dan menjaga, mengenang sejarah memerdekakan Indonesia dari pemuda yang terdekat. Cintanya mengutus pejuang untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsanya dipercayakan dia kepada tokoh-tokoh pejuang yang menduduki gedung A atau A yang dijumpainya di pantai utara Tujingudiman di Mojokerto.
Hal menarik dari lukisan karya Affandi sering disertai dengan penamaan karya kelainan seperti: Setan yang bermuka baik sebagaimana berbagai lukisan. Hingga memenangkan gelar yang mengagungkan Bapak Kekayaan Rakyat di tanah pertambangan di kalongan. Walaupun memiliki karakter fatal, watak positif beliau seiring waktu makin bertumbuh sehingga membuat lukisan mengalami roh nyata khas indah. Pada tahun 1985 Affandi mengalami cacat berkepanjangan. Bapak karya besar ini terluka dalam rangka nonton pesta Malam Pengukuhan Rektor Universitas Gadjah Mada. Pada tanggal 23 Juni 1990. Bapak Kekayaan Rakyat di kalangan orang sederhana Indonesia ini meninggal di rumah dan kemudian diasuh putrinya dan berita- berita itu melibatkan semakin aneh pada penggemar, dan 27 Juli 1990, dia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Yogyakarta.
.jpg)


Gabung dalam percakapan