Sultan Agung: Pemimpin Mataram Islam Yang Legendaris
Sultan Agung (1613-1645) merupakan seorang pemimpin yang sangat berpengaruh dalam sejarah Jawa, khususnya dalam catatan mataram Islam. Ia adalah salah satu penguasa paling sukses di bawah kekuasaan Mataram, sebuah kerajaan Islam di Pulau Jawa. Dalam artikel ini, kita akan membahas tentang kisah hidup Sultan Agung, kebijakannya dalam membentuk kerajaan Islam, dan warisannya yang masih berlanjut hingga hari ini.
Latar Belakang Keluarga dan Politik
Sultan Agung lahir pada tahun 1613 di Istana Pakubuwana, Jawa Tengah. Ayahnya, Sultan Agung Pandan Arang, merupakan seorang penguasa Katolik yang memeluk agama Kristen pada masa kekuasaannya. Namun, setelah Sultan Agung cucu Pandan Arang berkuasa, ia bergabung dengan sesama pegawai kerajaan Islam.
Sultan Agung menikah dengan putri dari Pangeran Arya Panuluh, salah satu saudara dari Sultan Agung Pandan Arang, pada tahun 1627. Pernikahan ini membentuk hubungan erat antara kedua kerajaan, sehingga memungkinkan dibentuknya kerajaan Islam yang kuat dan damai. Pihak ibu merupakan leluhur suku Pawan di Jawa Barat.
Kemaharajaan di Jawa
Sultan Agung adalah seorang pemimpin yang sangat berbakat dan ambisius. Ia membentuk sebuah kabinet dari anggota keluarga raja tetangga, hal ini memunculkan satu keyakinan bahwa Sultan akan menjadi penguasa dominan di Jawa, menggabungkan sisa tumpuk-tumpuk lembaga-lembaga kekuasaan ditempat berhala. Dengan demikian, Sultan Agung bergerak cepat melepaskan kerajaan Mataram ketika terjadi pemberontakan untuk menciptakan kekuatan itu pada tahun 1627.
Setelah menjadi penguasa Mataram, Sultan Agung menghadapi tantangan yang besar untuk membangun dan memperkuat kekuasaannya. Ia berhasil merebut kembali sebagian besar wilayah yang direbut oleh Belanda, dan menemukan Wilayah Madiun, Cirebon, Banten dan Kadipaten Blambangan. Bahkan, Sultan Agung juga menguasai wilayah-wilayah di Bali dan Lombok.
Menjadi Raja Kuat dari Jawa
Sultan Agung memimpin Mataram Islamic melalui kebijakannya yang shrewd dan berani. Ia mengadakan kembali pertumbuhan kerajaan Islam tersebut dan mendirikan sistem dewan penasehat yang kuat. Ia juga memperkenalkan hukum tata negara Mataram (disebut penggalagala). Yang disepakati yaitu ‘negara cinta, negara kasih’. Contoh ditemukannya kaligrafi batu yang bertuliskan "negara cinta" pada dinding Tembok Jawa.
Selain itu, Sultan Agung juga memimpin reformasi dalam berbagai aspek seperti pendidikan, hukum, ekonomi, dan infrastruktur. Bahkan, ia juga mengadakan pengobatan tradisionial untuk penyebaran berbagai penyakit di masa itu

Atas jerit Allah SWT, Sultan Agung menolak mengadopsi Polis Pangan Peni berdasarkan Anak Agung Alun dari pengikut penguasa Hindu di Bali di tahun 1630. Namun, Sultan Agung tergoda untuk memperkenalkan cara sistem baru sebagai darma untuk menyebarluaskan nilai-nilai Kerajaan di mana kerajaan berkembang menjadi sentra penyebaran Islam di zaman berikutnya
Baruasan yang Berkesinambungan
Sultan Agung wafat pada tahun 1645 setelah mempimpin Mataram selama 18 tahun. Ia mewarisi warisan yang sangat signifikan, baik dalam bidang ekonomi maupun politik.
Tugas lalu penting yang diteruskan Raja Alam (Babad Notopurokerto) atau kerabat-mitra adalah Jatinegara Hadi, bagaimanapun juga saat menteri yang beliau bawahi berupa M.A. Dhaharul (Karo Padma). Raja Alam bekerja sama dengan Sultan Agung kemudian memulai proyek pembangunan masjid Demak.
Sisi historis lain yang ditemukan adalah Sultan Agung dapat dijadikan sebagai dasar ideologi berdirinya berbagai negara di kawasan Asia Tenggara yang berkembang dan memperkenalkan, bahkan dijadikan dasar alih agregat oleh agama islam di masing-masing negara meliputi Indonesia.


Gabung dalam percakapan