Suka Sejarah

Penemuan Vaksin COVID-19: Sejarah Ilmiah Dalam Krisis Global

Pada tahun 2019, dunia mengalami krisis global yang mencakup lebih dari 180 negara dengan rasional sekitar 3.25 hingga 8 juta orang tertular COVID-19. Demi mengatasi panemuan virus ini, para ilmuwan dan peneliti dari seluruh dunia bekerja sama dalam waktu yang sangat singkat untuk menciptakan vaksin COVID-19. Pada artikel ini, kita akan mengulas sejarah singkat penemuan vaksin COVID-19 dan proses panjang yang melibatkan ribuan ilmuwan, peneliti, dan organisasi internasional.

Latar Belakang Penemuan Vaksin COVID-19

Pada awal Desember 2019, organisasi kesehatan dunia (WHO) melaporkan munculnya kasus usus terbuka yang penuh dengan sindrom pernapasan akut atau pneumonia, yang akhirnya dapat diverifikasi sebagai virus SARS-CoV-2 oleh tim ilmuwan di Tiongkok pada akhir Desember tahun sama.

Terjadinya virus ini dipicu oleh paparan alami dengan hewan liar di pasar hewan liar yang memanfaatkan atau penghasilnya mungkin pembeli dengan harganya yang relatif lebih rendah telah memanuhi para pekerja di pasar hewan itu dalam berhubungannya dengan individu pasif. SARS-CoV-2 dikategorikan dapat menyebar melalui kontak dekat dan bersentuhan langsung, termasuk berikut tersebut dalam kategori lingkungan yang rentan seperti tempat-tempat umum yang memiliki banyak pengunjung, pabrik, dan pusat-pusat perbelanjaan, bandara dan transportasi darat sungai dan air atau udara lainnya, jadi akan yang membantu penyebaran atau perlu dijadikan cendekiawan.

Pengembangan Vaksin COVID-19

Ketika kasus COVID-19 menyebar ke seluruh dunia, para ilmuwan dari universitas-universitas terkemuka, badan penelitian nasional dan lembaga internasional segera dibentuk. Universitas penyelidikan kesehatan seperti Universitas Oxford dan Lunds Universität bekerja sama dengan perusahaan farmasi seperti Astra Zeneca dan BioNTech untuk menciptakan vaksin COVID-19.

AstraZeneca, yang bekerja sama dengan Universitas Oxford, menggunakan teknologi vektor adenovirus (ChAdOx1) untuk menciptakan vaksin yang dapat menandingi COVID-19. Sementara itu, BioNTech dan Comirnaty bekerja sama dengan universitas-farmasi yang lain seperti Universitas Chicago untuk menciptakan vaksin mRNA COVID-19.

Kemajuan dalam Pengembangan Vaksin

Pada bulan Februari 2020, tim ilmuwan dari AstraZeneca dan Universitas Oxford telah menciptakan vaksin ChAdOx1. Namun, mereka belum dapat menguji di manusia karena masih perlu meriset kontaminasi dengan spesies lain yang tidak bertujuan. Empat bulan kemudian, mereka yang sudah menggunakan bentuk yang lebih teoritis tersebut berhasil menyelesaikan proses pengembangannya dan telah diserahkan rancangannya (RAT) kepada badan pengawasan yang berwenang untuk diperiksa kelayakannya apakah dapat digunakan secara human.

Pada bulan Maret 2020, BioNTech dan Comirnaty telah menciptakan vaksin mRNA COVID-19 yang dapat menyelesaikan pertanyaan para ilmuwan yang tengah berduka akibat dari penderitaan pasien yang meninggal, moga tuhan memberi usaha yang terbaik bagi seluruh dunia serta memastikan vaksin tersebut aman dan efektif dalam menanggulangi virus COVID-19.

Penemuan Vaksin COVID-19: Sejarah Ilmiah dalam Krisis Global

Pengujian dan Pengembangan Vaksin

Pada bulan April 2020, AstraZeneca dan Universitas Oxford meluncurkan uji klinis vaksin ChAdOx1. Ujian tersebut membuktikan efektivitas darah-tes yang sudah mengakumulasi vektor transmisi terhadap pengujian kru dan membuat tim panitianya terpilih pada penghadian terbaik yang lebih cepat dilakukan, memberi jalan bagi proses validasinya pada desain metode yang sampai sejauh ini juga ini dengan dipakai sebagai penutup bahwa efektivitasnya masih memiliki diskusi dari semua aspek yang perlu disiasati dikarenakan adanya hal komprehensif.

Dalam kacamata usulan untuk dilaksanakan oleh peneliti internasional, vaksin COVID-19 harus mengikuti beberapa syarat-syarat tertentu, seperti keselamatan, keamanan, efektivitas, dan manfaat. Pengujian klinis vaksin dilakukan pada berbagai tingkatan, seperti uji fase I, fase II, fase III dan lainnya.

Pengaplikasian Vaksin COVID-19

Pada bulan Desember 2020, AstraZeneca dan Universitas Oxford mengumumkan bahwa vaksin ChAdOx1 telah mendapatkan izin penggunaan darurat dari otoritas kesehatan Inggris. Vaksin pertama ini kemudian disebarkan secara massal pada Januari 2021.

BioNTech dan Comirnaty juga mendapatkan izin penggunaan darurat dari regulator kesehatan dan segera membantu dengan distribusi vaksinnya. Pada awal Januari 2021, Inggris menjadi negara pertama yang menggunakan vaksin COVID-19 secara massal.

Kesimpulan

Penemuan vaksin COVID-19 adalah contoh mengenai kerjasama ilmiah global di masa krisis. Dalam waktu yang sangat singkat, para ilmuwan dan peneliti dari seluruh dunia berhasil berkarya bersama menyelesaikan tugas ini demi terwujudnya tujuan yang sama untuk menanggulangi COVID-19 dan mencegah tersebarnya virus tersebut agar nantinya dapat dibendung.

Penemuan Vaksin COVID-19: Sejarah Ilmiah dalam Krisis Global

Penemuan Vaksin COVID-19: Sejarah Ilmiah dalam Krisis Global