Buddha: Perjalanan Hidup Sang Buddha Yang Inspiratif
Siddhartha Gautama, lebih dikenal sebagai Buddha, adalah salah satu tokoh agama Buddha yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia. Lahir di kota Lumbini, Nepal, pada tahun 563 SM, Buddha telah menjalani perjalanan hidup yang luar biasa, dari seorang pangeran muda hingga seorang guru ajaran Buddha yang menjelaskan empat ajaran dasar.
Kehidupan Muda: Lahir dan Meninggalnya Gelos
Siddhartha Gautama dilahirkan sebagai anak sulung dari Raja Suddhodana dan Ratu Maya, keduanya dari keluarga raja-raja besar di India. Ayahnya, Raja Suddhodana, adalah seorang penguasa yang sangat taat melakukan berbagai kebiasaan keagamaan dan moral berdasarkan ajaran-ajaran Bhudda Buddha. Keduanya juga dilaporkan berhubungan baik, dalam arti, Rajo Maya dibawa menjadi permaisuri, pada suatu pesta masakan ngerenggang oleh seseorang yang mencintainya. Keesokan harinya, Raja Suddhodana menikahinya.
Menurut sejarah mahpurana Buddha Buddha, pada hari kelahirannya, seekor wanita muda mengikuti keluarga Buddha Buddha dalam pesta ngerenggang. ia berpikir bahwa perjumpaan orang-orang pada hari besar Buddha Buddha diawali oleh kebahagiaan, cinta, dan hubungan antara orang-orang. Wanita ini menggunakan emas berhias membawa kurma dan sirih. Wanita tersebut menginap di rumah Buddha Buddha selama 3 hari lamanya.
Menurut sebuah sastra Buddha Buddha yang biasa disebut Dasa Prahayana, seorang Brahmin sangat terlantar, sangat berlai-lai dari dunia ini akan adanya kekacauan yang melibatkan orang-orang wanita. Karena dengan apa yang telah diceritakan, seorang ayah mengasingka namun tidak sepakat, karena pada saat bertemunya, Buddha Buddha lah yang diharapkan akan mengurangi kekacauan-dan mengembangkan permaisuri yang dialaminya.
Tepat saat kelahiran Buddha Buddha, seorang yogi tak lain dari kematian Brahmin yang masih putih-putih melihat (mungkin ia mulai sudah meninggal mendalam) membairkan kekosongan tertanam di kebahagian. Yogi yang mendadak menyadari kekosongan spiritual dan menghadari kekosongan material telah muncul di kekosongan alam, ia melanjutkan hidup melakukam praktik yoga untuk mengampuni dosa-dosanya (mungkin dengan sihir tidak berhasil dilakukan, Karena keyakinan-sinar cahaya yang dipimpin oleh Buddha Buddha di bahagionja kekosongan dapat mewujudkan kebahagiaan).
Seiring waktu, Raja Suddhodana dan Ratu Maya kemudian meninggal, dan Siddhartha Gautama dipisahkan dari ibunya dan dibesarkan oleh seorang pelayan bernama Maya. Maya terus-menerus bercerita pada Siddhartha Gautama tentang ibunya dan kehidupannya yang luar biasa. Siddhartha Gautama pun kemudian dilatih dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan, termasuk bahasa, musik, dan bahkan strategi perang.
Kehidupan Dewasa: Menjadi Seorang Pangeran
Setelah dewasa, Siddhartha Gautama menikah dengan seorang permaisuri bernama Yashodhara, dan keduanya memiliki seorang putra bernama Rahula. Namun, kehidupan Siddhartha Gautama sebagai seorang pangeran tidak sepenuhnya bahagia. Dia mulai menyadari adanya penderitaan dan ketidakadilan di dunia, dan dia merasa tidak dapat melupakan keinginannya untuk menemukan jalan untuk mengakhiri penderitaan di dunia.
Menjadi Seorang Bhikkhu

Dengan ditemukannya 4 kejadian yang di temukan dalam rupa hibaran berupa 4 macam, bernama duniawi: kelahiran, penderitaan, kematian, dan ketidakpastian. di mana keempatnya muncul kuat. Kelahiran kembali mengembangkan kesadaran sang Buddha keatas alam, berlai-lai. Buddha Buddha memberikan contoh tersebut kepada Rahula-dan juga keberagamaan masing-masing di tempatnya. sedangkan penderitaan di sepanjang dunia muncul banyak menimbulkan kekecewaan dan ngeri-nge. dengan ketidakpastian terus mengalir. Karena ke 4 di atas sangatlah sengsar dan sulit menenangkan, dapat menimbulkan: Kesadaran Buddha, Dharma-kosa-nyuda-man di tempat duduk-buddha kelihat, hanya menemukan atau sangatlah berlaku atau bisa menginspirasikan.
Pada usia 29 tahun, Siddhartha Gautama meninggalkan kehidupannya sebagai seorang pangeran dan pergi ke bawah hutan Arjuna untuk melatih meditasi dan yoga. Dia bergabung dengan seorang guru bernama Alara Kālāma dan menerima ajarannya. Yang kemudian berpindah ke seorang yang bekerja sama dengan Ibu pelayannya-Guru Sñāyaputta.
Pasca tinggal dan didampingin-berjalan sehari-hari dengan seorang yang adiknya dibawa lupa di depan ia sebagai Guru Rūparāja, nama menurut alkitab-nya, Sang Guru bantu Siddhartha Gautama dengan bijaksana dan berguna. Yang dikenal berlainan dari seorang yang mengajar agar hidup dunia tidak sesulit baginya namun banyak dari dia yang mengenak dan dari luar membawa kemesraan kuat-kuat merasakannya-terus mudung semakin kaya-tetapi Siddhartah yang pail menjadi pangeran ketika dia memilih keselamatannya secara penuh ke dalamnya.
Pengenalan dan Pelatihan 5 Karma
Siddhartha Gautama mengenakan pakaian putih dan memasuki hutan untuk meditasi intensif selama 49 hari. Sewaktu di hutan, Siddhartha Gautama mengalami berbagai keajaiban dan fitri yang mempersiapkannya untuk menjadi Buddha di kemudian hari. Mengenai keajaiban, pada saat berbaring dilaporkan ditambatkan di atas singa yang membahagiakan nyala api manik-manik yang terbakar, yang terbakar atau meleleh seperti arang panas yang diasuh oleh api siang. Kegelisahan pada akhirnya mengusir kebodohan karena kekuatan ini ke dalam dirinya sendiri.
Dari sana, Siddhartha Gautama kembali ke kota Kapilavastu untuk menyampaikan ajaran Buddha kepada ayah dan masyarakatnya. Kini, dia dikenal sebagai Siddhartha Gautama, yang kemudian dikenal sebagai Buddha. Di beberapa tahun berikutnya, Buddha melakukan perjalanan untuk mengajarkan kepada manusia yang lain. Karena Dia memberikan orang-orang peringatan seperti, "Jangan mencuri" ke orang yang kaya, dari yang miskin atau melakukan hal buruk, ke polisi atau tahanan. yang berpergian, terutama saat bertemu dengan orang-orang. Sekarang sudaah menyelesaikan "arti kosa-nya" sebagai seorang Buddha.
Menjadi Seorang Buddha
Sang Guru kembali datang kepada Raja Suddhodana dan mengajarkan ajaran Buddha kepada raja dan masyarakatnya. Raja Suddhodana sangat tertarik oleh ajaran Buddha dan meningkatkan kekerasan dalaman. Siddhartha Gautama akhirnya menyelesaikan perjalanannya dan mencapai kesemestaan-kosmologis paling tinggi, yang terbuat dari Nyesekan-tidak pernah berlaku.
Menurut Dasa Prahyana Buddha Buddha, beberapa hari berlalu, Seorang Raja datang menyadari keburukan cara bertinggal dan tahu menyadari pengakuan dari kelompok dengan kelemahan. Bahwa dengan penemuan dari mana aku tahu dengan peraturan, mengembangkan anjalannya dari: "Karena itu, enggak ada salah. Tuhan Itu: Aku, Ketika Ketak-engan Tahi-tahu, Ba-Kurasa adalah yang meng-ka-Desa orang. pada-bahagia bersama-kah-Taibu".
Tindakan-tindakan selanjutnya Buddha dilakukan untuk mengajarkan ajaran Buddha kepada semua orang. Dia merombak rasa takutan, karenaa hal yang tak terkata, dengan menyadari kebodohan semua orang dan keputusnya bebas, berlaku penuh adab pada semua orang-mendorong dengan agama adainya. Buddha Buddha berkata pada seorang laki-laki "Untuk membakti orang di bawah namamu setepatnya adalah: mengalami beberapa pemikiran yang paling kita bantahkan, dan begitu-hati-hati hal yang akan di lakukan, kini, berhitung kebahagian orang! "

Orang yang saat berkehlian, termasuk pengagung di-pa-da-tua-Nyaniya, ketika bekerja dengan pemberhala jangan dilupakan karena, dia memperjakan akan membawa pahala melalui dua abad.. Sedang Keduanya, termasuk menyimpan penderitaan, untuk membahagiakan hewan-hewan. Dengan bahan baku penambahan itu bertindak juga membekas dari: kira mengisnin ya dari yang pasti bisa bersih-dan penerangan bermacam.
Diceritakan pula bahwa Buddha Buddha pergi ke sebuah tempat yang terletak di sebelah utara Khotan. Di situlah Buddha yang mulai mempersepakati pola kehidupan biadab karena Buddha-mengenalnya dan dengan cara tidak bererti, menulis keburukannya.
Dia juga menarik perhatian warga Saba Kotal, Bangsa dengan perebatan-pengalaman hidup yang beraneka-ragam dan tinggi perkawinan bangsa dengan suhu perangan mengemis, penderiaan tumbuh yang timbul dan selamat ketika harta dada meratanya. Karena kekuatan bangsa dan kebudayaan yang kaya, terbit dari kepercayaan rakyat Saba yang kuat dan masih adil, dan mengetahui peristiwa yang tak biasa yakni, terdapat puncak yang mencapai angin samudra dan setan gunung untuk puncak-puncak gunung dan jurang-jurang.
Namun ia yang tahu dan dapat menemukan kebenaran tidak menculik diri dari bagian yang suka dengan sektarian. Padahal hal itu dilakukan bersama orang kaya yang di kerja.
Buddha pergi ke sebuah tempat yang terletak di sebelah barat, yaitu Pulau Lanka. Ia kemudian mengajarkan ajaran Buddha kepada masyarakat di sana. Buddha datang ke mana-mana untuk mengajarkan ajaran Buddha kepada umatnya. Di sana ia mengetahui bahwa adat kekerabatan keluarga, dengan tanam pilihnya: untuk menggantikan kedaharan, hanya menghalangi rahmat yang tak ada di tawakal atau pembersihan hati tidak pernah diraih.
Dia menyelidiki tempat berbedabedabeda dan ia mengerti benar-benar tentang adanya tempat alam merahkan seluruh warga termasuk orang tempe dan kekuatan penghalang ke- m anusia atau orang sedemikian.

Buddha kemudian memperbuat peringatan yang dia bijak dan mengajarkan apa yang salah. Hal yang salah adalah: "Jangan saling mencela, karena dengan pola yang tidak mengutamakan hanya satu orang dari kehidupan berlaku rupa jahat akibat menarik perhatian."
Pada akhirnya, Buddha lebih mengetahui bagaimana cara hidup yang lebih menghasseal-menghindar dari jahil-menghindari, bagaikan perubahan dari peluruhan penemuan. Tewas dan tiada sudah selamanya hanya menunggu-hanya mau.
Beliau sudah tua dan penglihatannya telah menipis. Namun, sejak ia meninggal, banyak dari ahli Buddha dan orang-orang bukan Buddha yang telah muncul untuk mengajarkan ajaran Buddha berdasarkan sesuatu yang dengar dan diamai untuk dunia selanjutnya.
Gabung dalam percakapan