U Nu – Perdana Menteri Burma Pertama

U Nu – Perdana Menteri Burma Pertama

Posted on · 3 min read
 U Nu adalah perdana menteri pertama Myanmar berdasarkan ketentuan Konstitusi Uni Burma  U Nu - Perdana Menteri Burma Pertama
U Nu

Perdana Menteri Burma ke-1

Perdana Menteri Burma ke-1
Masa jabatan: 4 Januari 1948 – 12 Juni 1956

Perdana Menteri Burma ke-3
Masa jabatan: 28 Februari 1957 – 28 Oktober 1958

Perdana Menteri Burma ke-5
Masa jabatan: 4 April 1960 – 2 Maret 1962

Informasi pribadi
  • Lahir: 25 Mei 1907 War khal ma, distrik Myaungmya, Ayeyarwady Division, British Burma
  • Meninggal: 14 Februari 1995 (umur 87) Yangon, Myanmar
  • Kebangsaan: Burma
  • Suami/istri: Daw Mya Yi
  • Anak: Daw San San Nu U Thet Tin, U Aung Ye Myint Daw Mya Mya Aye, U Thaung Htat Daw May Thazin Than Htat, U Aung Daw Khin San Nwe, Daw Than Nu U Aung Nyein, Dr Khin Aye Thet Tin(aka) Daw Khin Aye Nu
  • Agama: Buddha

U Nu adalah perdana menteri pertama Myanmar berdasarkan ketentuan Konstitusi Uni Burma 1947, dari 4 Januari 1948 sampai 12 Juni 1956, kemudian dari 28 Februari 1957 sampai 28 Oktober 1958 dan terakhir dari 4 April 1960 sampai 2 Maret 1962.

Nu lahir pada 25 Mei 1907di  War khal ma, distrik Myaungmya, Ayeyarwady Division, British Burma dari pasangan U San Tun dan Daw Khin Saw dari Wakema , Myaungmya District, Inggris Burma. Dia sekolah di SMA Myoma di Yangon, dan menerima gelar BA dari Universitas Rangoon pada tahun 1929. Pada tahun 1935 ia menikah dengan Mya Yi sambil belajar buat Sarjana Hukum.

Ia ikut mempelopori Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika (KAA) di Bandung pada tahun 1955 dengan beberapa tokoh lain dari dua negara. U Nu menjabat sebagai perdana menteri hingga tahun 1962 dengan diselingi oleh tokoh lain dalam posisi itu.

Sebagai tokoh politik ia bersahabat dengan mantan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) U Thant yang juga temannya di Universitas Rangoon. Selain sebagai politisi U Nu adalah seorang novelis yang cukup banyak karyanya.

Konferensi Asia–Afrika

Konferensi Tingkat Tinggi Asia–Afrika (disingkat KTT Asia Afrika atau KAA; tidak jarang juga disebut Konferensi Bandung) adalah sebuah konferensi antara negara-negara Asia dan Afrika, yang kebanyakan baru saja mendapat kemerdekaan. KAA diselenggarakan oleh Indonesia, Myanmar (lalu Burma), Sri Lanka (dahulu Ceylon), India dan Pakistan dan dikoordinasi oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Sunario. Pertemuan ini berlangsung antara 18 April-24 April 1955, di Gedung Merdeka, Bandung, Indonesia dengan tujuan mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet, atau negara imperialis lainnya.

Sebanyak 29 negara yg mewakili lebih dari setengah total penduduk dunia pada ketika itu mengirimkan wakilnya. Konferensi ini merefleksikan apa yang mereka pandang sebagai ketidakinginan kekuatan-kekuatan Barat buat mengkonsultasikan dengan mereka tentang keputusan-keputusan yang memengaruhi Asia pada masa Perang Dingin; kekhawatiran mereka mengenai ketegangan antara Republik Rakyat Tiongkok dan Amerika Perkumpulan; keinginan mereka untuk membentangkan fondasi untuk hubungan yang damai antara Tiongkok dengan mereka dan pihak Barat; penentangan mereka terhadap kolonialisme, khususnya pengaruh Perancis di Afrika Utara dan kekuasaan kolonial perancis di Aljazair; dan keinginan Indonesia untuk mempromosikan hak mereka dalam pertentangan dengan Belanda tentang Irian Barat.

Sepuluh poin hasil rapat ini kemudian tertuang dalam apa yg disebut Dasasila Bandung, yang berisi mengenai “pernyataan mengenai dukungan buat kerusuhan dan kerjasama dunia”. Dasasila Bandung ini memasukkan prinsip-prinsip dalam Piagam PBB dan prinsip-prinsip Nehru.

Konferensi ini akhirnya membawa kepada terbentuknya Gerakan Non-Blok pada 1961.

Para pendiri/pelopor Konferensi Asia-Afrika:

  • Ali Sastroamidjojo dari Indonesia
  • Mohammad Ali Bogra dari Pakistan
  • Jawaharlal Nehru dari India
  • John Kotelawala dari Sri Lanka
  • U Nu dari Myanmar
Sumber: Wikipedia